OPINI  

Tegas Itu Tanda Peduli: Apresiasi untuk Panitia Perkemahan Generasi Berkarakter

Oleh: Agussalim Ismail, S.Pd., Gr., M.Pd
(Guru SMK Negeri 9 Halteng)

Perkemahan Generasi Berkarakter bagi pengurus OSIS SMA/SMK/SLB se-Maluku Utara berlangsung pada 9-12 Oktober 2026 dengan tema “Membangun Karakter, Menumbuhkan Kepemimpinan”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara bersama kepanitiaan yang telah dibentuk untuk menyukseskannya. Mempertemukan calon pemimpin muda dari berbagai pulau dalam satu ruang belajar adalah ikhtiar strategis bagi pembangunan sumber daya manusia di daerah kepulauan. Karena itu, apresiasi yang tulus patut diberikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, para panitia, pendamping, dan seluruh pihak yang telah mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran demi terlaksananya kegiatan ini.

Pendidikan karakter tidak pernah berlangsung di ruang yang tanpa aturan. Lickona (1991) menegaskan bahwa pendidikan karakter yang utuh mencakup pengetahuan moral,
perasaan moral, dan tindakan moral. Tindakan moral, seperti disiplin, tanggung jawab, dan ketepatan waktu, hanya tumbuh melalui pembiasaan yang konsisten. Kegiatan berkemah
dengan jadwal yang padat dan kerja kelompok yang menuntut kekompakan adalah laboratorium yang tepat untuk pembiasaan itu. Di dalam laboratorium semacam ini, harus ada orang-orang yang bersedia menegakkan aturan, dan di sinilah peran panitia menjadi sangat penting.

Menegakkan aturan di hadapan ratusan peserta dari latar belakang berbeda bukan pekerjaan ringan. Panitia harus menjaga ketertiban, memastikan keselamatan, dan menjaga agar setiap kegiatan berjalan sesuai waktu. Tanpa ketegasan, perkemahan mudah kehilangan arah dan pelajaran tentang tanggung jawab menjadi kabur. Ketegasan panitia karenanya patut dibaca sebagai tanda kepedulian, bukan semata-mata kekerasan sikap. Sebagian panitia mungkin tampil lebih lugas daripada yang lain, tetapi ketegasan yang lugas pun lahir dari tanggung jawab agar kegiatan berjalan tertib dan peserta memperoleh manfaat sebesarbesarnya.

Kajian Baumrind (1966) memberikan landasan akademik yang relevan. Pola yang disebutnya otoritatif (authoritative) memadukan standar yang tinggi dengan kehangatan dan penjelasan, dan pola ini dinilai paling kondusif bagi perkembangan kompetensi sosial remaja. Dengan kata lain, standar yang tinggi bukanlah musuh pendidikan. Yang dibutuhkan peserta adalah keduanya sekaligus: aturan yang jelas dan pendampingan yang manusiawi. Teori determinasi diri (Deci & Ryan, 2000) menambahkan bahwa aturan yang jelas, disertai alasan yang dipahami, justru membantu peserta membangun motivasi internal. Ketegasan yang konsisten memberi kepastian tentang apa yang diharapkan, sehingga peserta belajar mengatur dirinya sendiri.

Tidak kalah penting, panitia adalah model yang diamati peserta. Bandura (1977) menjelaskan bahwa individu belajar secara signifikan melalui pengamatan terhadap orang di sekitarnya. Ketika panitia hadir tepat waktu, bekerja tuntas, dan memperlakukan semua peserta dengan aturan yang sama, mereka sedang menunjukkan integritas dan keadilan, nilai yang menjadi inti kepemimpinan. Panitia pun umumnya adalah pemimpin muda yang sedang
belajar. Menjalankan peran yang menuntut kesabaran dan keberanian mengambil sikap adalah bagian dari proses mereka bertumbuh.

Tentu, ketegasan yang baik selalu berada dalam koridor perlindungan anak dan prinsip inklusi. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 menjadi pagar yang menjaga agar pembinaan tetap mendidik, sementara Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 mengingatkan pentingnya kepekaan terhadap keragaman kebutuhan peserta, termasuk rekan-rekan dari SLB. Pagar semacam ini tidak melemahkan peran panitia, melainkan memperkuatnya. Dengan pedoman yang disepakati bersama, ketegasan panitia memiliki legitimasi yang kokoh di mata peserta, pendamping, dan orang tua.

Kegiatan sebesar ini tentu akan selalu menyisakan ruang untuk belajar. Evaluasi yang terbuka, pelatihan komunikasi bagi panitia, dan pelibatan guru pendamping dapat menjadi
bekal untuk kegiatan mendatang. Namun evaluasi seharusnya berangkat dari apresiasi, bukan prasangka. Panitia adalah anak-anak daerah yang bersedia meluangkan waktu untuk generasi penerusnya, dan itu pantas dihargai.

Pada akhirnya, karakter dibentuk oleh pembiasaan, keteladanan, dan keberanian untuk menegakkan nilai. Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja dengan sepenuh hati.

Semoga pengalaman empat hari ini menjadi bekal bagi peserta untuk memimpin dengan adil, disiplin, dan penuh tanggung jawab di sekolah dan daerah masing-masing.##

“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani“.