Panitia Kejurnas Karate ASKI Ternate Harapkan Ada Dukungan Pemerintah

TERNATE – Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Karate Open Tournament Piala Bergilir ASKI Ternate menjadi momentum penting untuk mempererat persatuan antarperguruan karate sekaligus menjaring bibit-bibit atlet potensial yang nantinya dipersiapkan mewakili Maluku Utara pada kejuaraan tingkat nasional.

Kegiatan berlangsung di Duafa Center, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah, Sabtu (07/11/2026).

Ketua Panitia Kejurnas Karate Open Tournament Piala Bergilir ASKI Ternate, Sofyan Hasan, mengatakan kegiatan tersebut digelar Mulai dilaksanakan tanggal 08 – 11 November 2026, dengan tujuan menyatukan seluruh perguruan karate, tidak hanya yang berada di Kota Ternate dan Maluku Utara, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, Seribu peserta berasal dari luar Maluku Utara, termasuk Sulawesi Utara, Papua, Gorontalo, Minahasa serta wilayah lainnya.

“Intinya karate menjunjung tinggi sportivitas. Kegiatan seperti ini seharusnya mendapat dukungan dari pemerintah daerah karena menjadi ruang positif bagi pembinaan olahraga dan pengembangan potensi atlet,” ungkap Sofyan.

Ia menjelaskan, selain menjadi ajang silaturahmi antarperguruan, turnamen tersebut juga diarahkan untuk mencari atlet-atlet berbakat yang dapat dipersiapkan menghadapi kompetisi berikutnya, baik di Jakarta maupun kejuaraan nasional lainnya.

Terlebih, ke depan terdapat agenda Pra-PON dan PON yang membutuhkan persiapan atlet sejak dini. Karena itu, melalui turnamen ini, panitia ingin melihat sejauh mana kemampuan dan potensi atlet daerah ketika berhadapan dengan peserta dari provinsi lain.

“Kita ingin mencari bibit-bibit atlet daerah. Walaupun harus bersaing dengan provinsi lain, setidaknya kita bisa melihat kemampuan dan potensi yang dimiliki atlet Maluku Utara,” jelasnya.

Sofyan menyebutkan, turnamen tersebut secara khusus mempertandingkan cabang olahraga karate dengan dua kategori utama, yakni kategori prestasi dan festival.

Kategori prestasi mempertandingkan nomor kumite dan kata yang diperuntukkan bagi atlet-atlet yang telah memiliki pengalaman serta kemampuan teruji. Sementara kategori festival lebih diarahkan kepada atlet pemula yang sedang merintis kemampuan dan membutuhkan ruang untuk mengembangkan bakat serta mental bertanding.

Menurutnya, kedua kategori tersebut memiliki peran penting dalam proses pembinaan atlet, baik bagi mereka yang sudah berpengalaman maupun generasi muda yang baru mulai menekuni olahraga karate.

Di sisi lain, Sofyan mengungkapkan bahwa pada awalnya turnamen tersebut direncanakan menggunakan nama Piala Kesultanan. Namun, seiring berjalannya proses persiapan, rencana tersebut tidak mendapatkan respons sebagaimana yang diharapkan.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat panitia kehilangan semangat. Mereka akhirnya mengambil keputusan untuk tetap melaksanakan kegiatan dengan menggunakan Piala Bergilir ASKI Ternate.

“Kami sebagai panitia tidak patah semangat. Akhirnya kami mengambil kesimpulan untuk tetap melaksanakan kegiatan dengan Piala Bergilir ASKI Ternate,” ujarnya.

Sofyan juga menyampaikan kekecewaannya terhadap minimnya dukungan dari sejumlah pihak, termasuk pemerintah daerah, baik Pemerintah Kota Ternate, Pemerintah Provinsi Maluku Utara maupun KONI.

Ia mengatakan, panitia telah berupaya mendatangi berbagai instansi untuk meminta dukungan. Namun, jawaban yang diterima sebagian besar berkaitan dengan keterbatasan anggaran dan kebijakan efisiensi. Akibatnya, pelaksanaan kegiatan lebih banyak ditopang melalui dana pribadi panitia.

Sofyan menegaskan, dukungan yang diharapkan sebenarnya tidak semata-mata dalam bentuk bantuan finansial. Menurutnya, perhatian, fasilitasi, serta dukungan moral dari pemerintah juga sangat dibutuhkan untuk menyukseskan kegiatan olahraga yang membawa nama daerah.

“Kami hanya memohon dukungan, bukan berarti harus selalu dalam bentuk uang. Karena pada akhirnya kegiatan ini juga untuk daerah. Pemerintah seharusnya memberikan support terhadap kegiatan seperti ini,” tegasnya.

Ia menilai, penyelenggaraan kejuaraan karate berskala nasional semestinya mendapat perhatian lebih serius. Sebab, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari investasi pembinaan olahraga dan pencarian atlet potensial Maluku Utara.

Sofyan berharap ke depan pemerintah daerah dan KONI tidak menutup ruang bagi kegiatan olahraga yang diinisiasi masyarakat maupun organisasi perguruan.

Lebih lanjut, prestasi olahraga daerah tidak bisa dibangun hanya dengan harapan, tetapi membutuhkan ruang kompetisi, pembinaan berkelanjutan, serta dukungan nyata dari seluruh pemangku kepentingan.

“Jangan sampai kegiatan sebesar Kejurnas Karate seperti ini kurang mendapat perhatian. Padahal, tujuan kami jelas, yakni membangun olahraga, menyatukan perguruan, dan mencari atlet terbaik untuk membawa nama Maluku Utara,” tutup Sofyan. (Barak)