TERNATE – Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, menegaskan bahwa kekayaan sejarah, budaya, pariwisata, serta potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus menjadi kekuatan baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Sarbin Sehe saat memberikan sambutan pada Festival Salawaku yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia perwakilan Maluku Utara, Jumat (6/11/2016) di Benteng Oranje Ternate.
Sarbin mengapresiasi Bank Indonesia yang kembali menggelar Festival Salawaku untuk kedua kalinya. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi terus dikembangkan dengan menghadirkan lebih banyak festival yang mengangkat potensi dan identitas daerah.
Menurutnya, dukungan Bank Indonesia terhadap berbagai kegiatan daerah, termasuk perayaan HUT Provinsi Maluku Utara melalui Festival Jefevi, merupakan kontribusi nyata dalam mendorong pengembangan ekonomi dan kreativitas masyarakat.
“Festival Salawaku bukan sekadar festival atau agenda tahunan masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk nyata sinergi dalam membangun ekosistem ekonomi daerah yang produktif, kreatif, inklusif, dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Festival Salawaku menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai potensi daerah, mulai dari UMKM, industri kreatif, digitalisasi sistem pembayaran, kebudayaan hingga sektor pariwisata.
Seluruh sektor tersebut, kata Sarbin, memiliki keterkaitan kuat dan dapat menjadi kekuatan baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang manfaatnya dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Namun, memberikan catatan kritis terhadap struktur pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang selama ini menunjukkan angka tinggi, tetapi belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Sarbin menilai, tingginya pertumbuhan ekonomi daerah masih sangat dipengaruhi oleh industri pertambangan, khususnya sektor nikel, sementara kontribusi sektor UMKM, pertanian, perkebunan, dan perikanan belum menjadi penggerak utama yang dirasakan secara merata.
“Kalau melihat hitungan statistik, masyarakat Maluku Utara seharusnya sudah bahagia karena pertumbuhan ekonomi kita tertinggi. Tetapi ternyata pertumbuhan itu belum dipicu oleh UMKM, pertanian, maupun perikanan kita. Murni lebih banyak dipicu oleh industri tambang,” tegasnya.
Ia menambahkan, apabila pertumbuhan ekonomi ditopang oleh UMKM, pertanian, perkebunan, dan perikanan, maka manfaatnya akan lebih luas dirasakan seluruh lapisan masyarakat, baik kelompok mampu maupun masyarakat yang kurang mampu.(red)















