Irine Yusiana: SLCN dan SLG Digelar Bersama Lebih Efektif dan Berdampak Luas

HALBAR – Anggota Komisi V DPR RI, Irine Yusiana Roba Putri, S.Sos., M.Comm&MediaSt., mengapresiasi pelaksanaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) dan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) yang untuk pertama kalinya digelar secara bersamaan di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. di Aula Bidadari Kantor Bupati Halmahera Barat, Selasa (28/07/202).

Irine menyebut pelaksanaan kedua kegiatan tersebut secara bersamaan merupakan sesuatu yang istimewa. Menurutnya, penggabungan SLCN dan SLG memiliki tujuan utama untuk meningkatkan efektivitas kegiatan sekaligus memperluas dampak edukasi kepada masyarakat.

“Baru pertama kali SLCN dan juga SLG itu dijadikan satu. Tidak usah melihat kenapa dijadikan satu. Biarlah saya sebagai anggota Komisi V DPR yang mengetahuinya. Tetapi satu kata kuncinya adalah efektif dan satu kata kuncinya adalah berdampak lebih luas,” ujar Irine.

Ia menjelaskan, selama ini SLCN dan SLG umumnya dilaksanakan secara terpisah. SLCN lebih berfokus pada edukasi cuaca dan keselamatan bagi nelayan, sedangkan SLG memberikan pemahaman terkait gempa bumi dan tsunami.

Namun, menurut Irine, kondisi geografis Maluku Utara membuat kedua pengetahuan tersebut sangat penting untuk dipahami secara bersamaan. Masyarakat Maluku Utara hidup berdampingan dengan laut, gunung dan kondisi alam yang memiliki potensi menghadirkan bencana.

“Laut adalah tempat kita mencari rezeki. Laut adalah jalan kita dalam bersilaturahmi, tetapi di laut juga ada tantangan,” katanya.

Hal serupa, lanjut Irine, juga berlaku pada keberadaan gunung berapi. Gunung api menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Maluku Utara dan turut membuat tanah di wilayah tersebut subur. Namun, aktivitas gunung api juga dapat menjadi ancaman apabila terjadi erupsi.

“Begitu juga dengan gunung berapi. Kita tahu tanah Halmahera subur karena banyaknya gunung berapi, tetapi di satu sisi kalau batuk sedikit kita juga sangat khawatir,” ujarnya.

Kearifan Lokal Jadi Modal Penting Dalam kesempatan tersebut, Irine juga mengajak peserta untuk tidak mengabaikan kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur. Menurutnya, masyarakat Maluku Utara sejak dahulu telah memiliki pengetahuan tradisional dalam membaca tanda-tanda alam.

Ia kemudian membagikan pengalaman yang diperolehnya dari sang ayah dan kakeknya terkait tanda-tanda alam ketika masyarakat hendak menyeberang dari Jailolo menuju Ternate.

“Kalau mau menyeberang, mau ke Ternate dari Jailolo, kita lihat Gunung Jailolo. Kalau Gunung Jailolo ujungnya clear, tidak ada awan, berarti tidak ada ombak. Tapi begitu itu tertutup awan, pasti ombak,” ungkapnya.

Bagi Irine, pengetahuan tersebut merupakan salah satu contoh nyata bagaimana masyarakat Maluku Utara telah memiliki kemampuan membaca kondisi alam secara turun-temurun.

Karena itu, pelaksanaan SLCN dan SLG diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan berbasis teknologi dan informasi ilmiah, tetapi juga dapat memperkuat kearifan lokal yang telah hidup di tengah masyarakat.

Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan serius dan menjadikan pengetahuan yang diperoleh sebagai bekal untuk meningkatkan keselamatan, khususnya bagi masyarakat yang aktivitas sehari-harinya sangat bergantung pada kondisi alam.

“Yang kita lakukan hari ini bukan sekadar kegiatan, tetapi bagaimana pengetahuan ini bisa menjadi bekal untuk kita semua agar lebih siap menghadapi tantangan alam,” pungkasnya. ( Barak)