BMKG Dorong Nelayan Pahami Informasi Cuaca dan Mitigasi Bencana Pesisir

HALBAR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperkuat edukasi kepada masyarakat pesisir melalui program Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN). Program tersebut dinilai penting untuk meningkatkan pemahaman nelayan terhadap kondisi cuaca, gelombang, angin, serta potensi bencana yang dapat mengancam keselamatan saat melaut.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Bidadari Kantor Bupati Halmahera Barat, Selasa (28/7/2026), yang dihadiri Sekda Halmahera Barat Drs. Julius Marau, Staf Ahli Gubernur Maluku Utara Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Fachrudin Tukuboya, Anggota Komisi V DPR RI Irine Yusiana Roba Putri, Ketua DPRD Halmahera Barat, Danyonif 732 Banau Letkol Inf. Sandhya Dika Kalantaka, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate, sejumlah pejabat terkait, serta para tamu undangan.

Plh Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Dr. Andi Ramdhani, dalam sambutannya mengatakan, dinamika cuaca saat ini turut dipengaruhi oleh kondisi suhu muka laut yang lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi perubahan cuaca dan meningkatkan potensi terjadinya cuaca ekstrem.

“Ditambah lagi dengan terjadinya beberapa kejadian cuaca ekstrem, khususnya di sekitar wilayah Halmahera yang berpotensi sering terjadinya siklon tropis dari arah Samudera Pasifik bagian utara,” ujar Andi.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap perubahan cuaca yang buruk, angin kencang, hingga meningkatnya risiko bagi aktivitas nelayan di wilayah pesisir.

Karena itu, SLCN mengambil peran penting sebagai sarana edukasi bagi masyarakat pesisir, khususnya nelayan. Melalui program tersebut, BMKG berupaya mendekatkan layanan informasi cuaca kepada masyarakat agar informasi mengenai tinggi gelombang, arah angin, kondisi laut, hingga perkembangan cuaca dapat dipahami dan dimanfaatkan secara langsung sebelum maupun saat melakukan aktivitas melaut.

Andi menjelaskan, para nelayan juga akan dibekali kemampuan membaca informasi cuaca untuk membantu menentukan lokasi potensial penangkapan ikan.

“Melaut itu bukan mencari ikan, tetapi menangkap ikan. Kita harus mengetahui bagaimana kondisi cuaca, angin, dan gelombang untuk keselamatan,” jelasnya.

Ia berharap pemanfaatan informasi cuaca tersebut dapat membuat nelayan lebih aman dan produktif sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan.

“Nelayan hebat, selamat dan sejahtera,” katanya.

SLCN Digelar Bersamaan dengan Sekolah Lapang Gempa Tsunami
Kegiatan SLCN kali ini juga dilaksanakan bersamaan dengan Sekolah Lapang Gempa Tsunami (SLG). Integrasi kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat pesisir dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Dalam sambutannya, Andi menegaskan bahwa edukasi mengenai mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami sangat penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan pesisir.

Ke depan, BMKG berencana lebih sering mengintegrasikan pelaksanaan SLCN dengan SLG, khususnya di kawasan pesisir yang memiliki tingkat kerawanan terhadap berbagai ancaman bencana.

“Ke depan mungkin kita akan sering melaksanakan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dengan Sekolah Lapang Gempa Tsunami, khususnya untuk wilayah pesisir,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ancaman bencana di wilayah pesisir cukup beragam, mulai dari gelombang tinggi, gelombang pasang hingga banjir rob. Karena itu, peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat menjadi salah satu kunci dalam mengurangi risiko bencana.

Melalui sinergi edukasi cuaca dan mitigasi bencana tersebut, BMKG berharap masyarakat pesisir tidak hanya mampu memahami informasi meteorologi, tetapi juga memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik dalam menghadapi potensi bencana.

Dengan demikian, informasi yang diberikan BMKG dapat dimanfaatkan secara nyata untuk mendukung keselamatan aktivitas nelayan sekaligus membangun masyarakat pesisir yang lebih tangguh menghadapi perubahan cuaca dan ancaman bencana.(Barak)