HALTENG— Di bawah kepemimpinan Bupati Ikram Malan Sangadji dan Wakil Bupati Ahlan Djumadil, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus bergerak dengan menggandeng Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) untuk mendorong perubahan pola hidup masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi Pemanfaatan Sampah Organik/Limbah Rumah Tangga Menjadi Pupuk Kompos yang berlangsung di Aula Kantor TP-PKK Halteng, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan ini melibatkan sejumlah organisasi perempuan, di antaranya TP-PKK, Dharma Wanita Persatuan (DWP), Bhayangkari, dan Persit Kartika Chandra Kirana. Keterlibatan kaum perempuan dinilai strategis karena memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat, dimulai dari lingkungan keluarga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Halmahera Tengah, Rivani A. Radjak, mengatakan sosialisasi tersebut bertujuan memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis kepada masyarakat, khususnya kaum perempuan, agar mampu memilah dan mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos yang memiliki nilai manfaat.
“Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat, khususnya kaum perempuan, dalam memilah dan mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos yang bermanfaat,” ujar Rivani.

Menurutnya, pengelolaan sampah dari lingkungan rumah tangga merupakan bagian penting dalam mendukung target Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah untuk mencapai 100 persen sampah terkelola pada 2029.
Ia menegaskan, target tersebut tidak dapat diwujudkan hanya dengan mengandalkan pemerintah maupun DLH. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dengan memulai pengurangan sampah langsung dari sumbernya.
Karena itu, penerapan prinsip mengurangi, menggunakan kembali, dan memilah sampah harus menjadi kebiasaan sehari-hari, terutama di lingkungan rumah tangga.
Perempuan Jadi Motor Perubahan
Sementara itu, Ketua TP-PKK Halteng, Ralia Ikram Malam Sangaji, menyoroti persoalan sampah domestik yang tidak dikelola dengan baik karena dapat menimbulkan berbagai dampak, mulai dari ancaman kesehatan, penyumbatan saluran air, hingga menurunnya kebersihan dan keindahan lingkungan.
Ralia mengajak seluruh kader PKK dan organisasi perempuan agar mengubah cara pandang terhadap sampah rumah tangga.
Menurutnya, limbah dapur seperti sisa makanan nabati, kulit buah, sisa sayuran, dan daun kering bukan sekadar barang buangan, tetapi dapat diolah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis.
“Inilah pesan penting yang ingin kita bangun, yaitu mengubah cara pandang kita terhadap sampah, dari sesuatu yang tidak berguna menjadi sumber daya yang memiliki manfaat,” ungkap Ralia.

Untuk memastikan sosialisasi tersebut tidak berhenti sebatas kegiatan seremonial, Ralia menekankan lima langkah konkret yang perlu diterapkan oleh seluruh peserta.
Pertama, membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari dapur rumah tangga. Kedua, mengolah limbah organik berupa sisa makanan, sayuran, dan kulit buah menjadi pupuk kompos dengan metode yang tepat.
Ketiga, memanfaatkan hasil pengolahan kompos untuk menyuburkan tanaman hias, tanaman obat keluarga (TOGA), maupun penghijauan pekarangan rumah.
Keempat, memberikan edukasi kepada anak-anak, anggota keluarga, dan lingkungan sekitar agar terbentuk kebiasaan hidup bersih. Kelima, mendorong kelompok PKK di tingkat desa dan kecamatan membangun proyek percontohan pengolahan sampah rumah tangga.
Menuju Halteng Bersih dan Hijau 2029
Melalui kemitraan tersebut, DLH Halteng akan memberikan dukungan teknis serta pendampingan berkelanjutan. Sementara kader PKK bersama organisasi perempuan diharapkan menjadi ujung tombak edukasi dan penggerak perubahan perilaku masyarakat.
Program ini tidak hanya diarahkan untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk kompos.
Dengan keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah berharap target 100 persen sampah terkelola pada 2029 dapat diwujudkan, sekaligus membangun lingkungan yang lebih bersih, sehat, produktif, dan hijau.(red)















