TERNATE, JURNALONE.ID – Himpunan Pelajar Mahasiswa (HIPMA) Patani, mengecam Pemerintah Daerah (Pemda) dan DPRD Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng). Mereka menilai Pemda dan DPRD Mati Suri, pasalnya hingga kini Pemda dan DPRD tidak serius dan peka terhadap kasus pembunuhan yang terjadi dua tahun lalu.
Kecaman ini disampaikan Ketua Umum (Ketum) HIPMA Patani, Sirjan Ade yang menuturkan, bahwa peristiwa pembunuhan dalam bentuk mutilasi itu menelan tiga korban, dan hingga kini belum juga diusut tuntas. ” Pembunuhan ini terjadi di hutan Patani, tepatnya di Sungai Gowonle, pada 20 Maret 2021 lalu,” tutur Sirjan, Sabtu (11/3/2023).
Ketua HIPMA Patani menilai, jika Pemda Halteng gagal mengawal kepentingan masyarakat dan tidak serius membijaki pembunuhan di hutan Patani, di Sunga Gowonle itu. Padahal, keluarga korban menaruh harapan penuh kepada Pemda dan DRPD untuk memberikan keadilan, dengan mengusut tuntas kasus itu. “Keluarga korban meminta adanya kebenaran, akan tetapi Pemda Halteng terus diamkan kasus ini,” tegas Sirjan Ade.
Oleh karena itu, pihaknya menyebutkan Pemda dan DPRD Halteng tidak ada keberpihakan kepada keluarga korban untuk berikan kenyamanan dan keadilan. Kata dia, keluh kesah ini siapa lagi yang harus di harapkan kalau bukan Pemirntah Halteng dan DPR, tapi tidak ada keberpihakan kepada keluarga korban yang tiap hari menangis. “Pemda dan DPRD Halteng sengaja mendiamkan pembunuan, sehingga suara keluarga korban tidak didengar, padahal kasus ini sudah disuarakan nyaris dua tahun ini, oleh keluarga korban,” ucapnya.
Untuk itu dirinya mengatakan, Pemda dan DPRD Halteng tidak fungsional, jangan-jangan Pemda dan DPRD terlibat sehingga tak menyelesaikan kasus ini. Disebutkannya, pembunuhan di daratan hutan Patani di Sungai Gowonle itu merupakan tindakan kejahatan kriminal yang sadis, dan melukai pihak keluarga. “HIPMA Patani mencurigai Pemda dan DPRD terlibat, sehingga persoalan kemanusiaan pun tidak menjadi prioritas kebijakan,” ucapnya bernada kesal.
Diketahui tiga korban dalam kasus pemubuhan oleh OTK di Hutan Patani, diantaranya, Risno Muhlis warga asal Desa Soma Kecamatan Malifut, Yusuf Kader warga Desa Batu Dua Kecamatan Patani Utara, dan Hi. Hasan Masani warga Desa Masure Kecamatan Patani Timur. Ketiganya tewas terbunuh di hutan Patani Timur, pada 20 Maret 2021 silam dan hingga kini masih menjadi teka-teki karena belum diketahui siapa pelaku pembunuhan.
Sedangka untuk kronologis singkat dari kasus pembuhan itu, bermula saat tujuh warga setempat masuk ke hutan Patani Timur dengan tujuan mendulang emas tepatnya di kawasan Gunung Damuli. Saat mereka tiba di TKP, tiba-tiba tujuh warga tersebut diserang orang tidak dikenal (OTK) yang berjumlah belasan orang. Penyerangan para OTK tersebut, mengakibatkan tiga orang tewas di tempat, sementara 4 orang lainnya selamat, salah satunya termasuk anggota TNI.(rls/ SMG)















