Abubakar Abdullah Soroti Sulitnya Akses Sekolah dan Kebutuhan Guru SLB di Maluku Utara

TERNATE – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, menyoroti berbagai tantangan dalam akses pendidikan, khususnya pada Sekolah Luar Biasa (SLB), yang masih terkendala kondisi geografis dan keterbatasan fasilitas pendidikan di daerah.

Saat melaksakan kegiatan sosialisasi penerimaan siswa baru melalui program studi pendidikan khusus jurusan pendidikan luar biasa. diruang Aula Taib Armayin SMA Negeri 1 Ternate, Jumat (22/05/2026).

Dalam sambutannya, Abubakar menyampaikan bahwa sejumlah peserta didik masih mengalami kesulitan untuk menjangkau sekolah karena jarak yang jauh serta medan yang sulit.

“Sekolah di beberapa wilayah masih sulit diakses karena kondisi perjalanan yang berat. Ini menjadi problem tersendiri bagi peserta didik,” ujarnya.

Ia mencontohkan, terdapat sekolah yang memiliki jangkauan hingga empat sampai lima kilometer, dengan akses jalan yang harus melewati kawasan hutan dan topografi yang berat. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat sebagian siswa merasa kesulitan bahkan putus asa untuk melanjutkan pendidikan.

“Saya sempat melihat ada sekolah yang jaraknya cukup jauh dan harus melewati hutan. Ini menjadi tantangan besar bagi peserta didik,” tambahnya.

Selain itu, ia juga menyoroti kondisi wilayah Maluku Utara yang sebagian besar merupakan daerah kepulauan dengan bentang alam laut, sehingga membutuhkan pendekatan khusus dalam pemerataan layanan pendidikan, terutama pendidikan khusus.

Saat ini, Maluku Utara memiliki sembilan SLB dengan jumlah guru sekitar 300 orang. Namun, masih terdapat guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan khusus yang memadai.

“Kita punya sekitar sembilan sekolah SLB dan kurang lebih 300 guru, namun masih ada yang perlu peningkatan kualifikasi. Ini menjadi perhatian kita bersama,” jelasnya.

Abubakar juga menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Manado yang telah berkolaborasi dalam penguatan sumber daya manusia di bidang pendidikan khusus.

Ia menegaskan pentingnya kerja sama berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi guru SLB serta memperluas akses pendidikan inklusif di Maluku Utara.

“Ke depan, kita berharap kerja sama ini terus berlanjut agar sekolah-sekolah khusus mendapatkan kesempatan yang lebih baik,” pungkasnya.(barak)