BUDAYA  

Ternate Jadi Magnet Budaya, 1.500 Peserta Ramaikan Nusantara Melalui JKPI

TERNATE — Wali Kota Ternate M. Tahuid Soleman menegaskan bahwa Kota Ternate telah mempersiapkan pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) ke-XII selama kurang lebih satu tahun, Rabu (26/08/2026).

Menurut Tahuid, persiapan tersebut dilakukan secara matang dengan tetap mendapatkan pendampingan dan kurasi dari Direktorat Eksekutif JKPI Pusat.

“JKPI ke-XII ini kita sudah mempersiapkan kurang lebih setahun, dari tahun lalu, dan memang tetap dibantu serta dikurasi oleh Direktorat Eksekutif JKPI Pusat,” ujar Tahuid.

Ia mengatakan, pelaksanaan JKPI di Ternate sekaligus membuktikan bahwa kota berjuluk Ternate Kota Rempah tersebut memiliki daya tarik yang kuat untuk mendatangkan wisatawan maupun berbagai delegasi dari daerah lain.

“Alhamdulillah, pada hari ini kita bisa membuktikan bahwa magnet untuk orang datang di Ternate itu sangat kuat. Itu dibuktikan dengan berbagai delegasi yang hadir,” katanya.

Tahuid menjelaskan, kedatangan para delegasi telah berlangsung sejak beberapa hari sebelum rangkaian utama kegiatan JKPI dimulai. Bahkan, sejumlah delegasi masih dijadwalkan tiba hingga beberapa hari ke depan.

Salah satu kegiatan yang menjadi daya tarik tersendiri adalah Nusantara Ray-Rayaran, yakni kegiatan lari yang menjadi bagian dari rangkaian JKPI. Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut terbilang tinggi.

“Yang paling terakhir dari kegiatan JKPI adalah kegiatan Nusantara Ray-Rayaran, yaitu kegiatan lari. Awalnya kurang lebih 800 peserta, tetapi sekarang sudah 1.500 yang mendaftar untuk ikut,” ungkapnya.

Menurutnya, tingginya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa setiap perhelatan JKPI memiliki daya tarik tersendiri, termasuk pelaksanaan Rakernas JKPI ke-XII di Kota Ternate.

Namun, Tahuid menilai JKPI di Ternate memiliki kekhasan tersendiri. Tidak hanya menampilkan keragaman budaya Ternate, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Maluku Utara.

“Kita mencoba memberikan informasi bagaimana keragaman Ternate dan beberapa keragaman budaya yang ada di luar Ternate, seperti Halmahera Selatan, Halmahera Barat, kemudian Tidore Kepulauan,” jelasnya.

Ia berharap, keberagaman tersebut dapat menyatu dalam satu panggung kebudayaan sehingga masyarakat dan para delegasi dapat melihat secara langsung warna-warni budaya yang dimiliki Maluku Utara.

“Ini untuk menyatu memperlihatkan bagaimana keragaman dan warna budaya yang ada di Maluku Utara,” pungkasnya. (Barak)