JAKARTA — Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 kembali mencatatkan prestasi membanggakan dalam mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia. Hingga 23 Agustus 2026, ajang yang digelar Bank Indonesia ini mencatat total transaksi penjualan mencapai Rp177,21 miliar, meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Capaian positif tersebut juga dirasakan UMKM asal Maluku Utara yang tampil membawa produk wastra daerah di ajang KKI 2026 di Jakarta.
Asisten Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Fadhil Muhammad, mengatakan dua UMKM wastra Maluku Utara, yakni Puta Dino Kayangan dan Rapidino, berhasil mencatat penjualan sebesar Rp206 juta selama empat hari pelaksanaan pameran.
Angka tersebut meningkat signifikan hingga 131,42 persen dibandingkan capaian pada tahun sebelumnya.
Menurut Fadhil, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa produk UMKM Maluku Utara memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar yang lebih luas.
“Hal ini menandakan bahwa UMKM Maluku Utara mampu bersaing dan berkomitmen dalam melakukan pengembangan berkelanjutan,” ujar Fadhil.
Ia menambahkan, berbagai produk yang dihasilkan UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Maluku Utara diharapkan dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi kreatif di Maluku Utara.
KKI Perkuat Ekosistem UMKM
KKI 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi dan transaksi produk UMKM. Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem UMKM dari hulu hingga hilir.
Penguatan dilakukan melalui kolaborasi, inovasi produk dan merek lokal, pengembangan kapasitas generasi muda, perluasan akses pasar dan pembiayaan, digitalisasi, serta penerapan prinsip keberlanjutan.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, mengatakan KKI terus digelar setiap tahun sebagai bentuk komitmen Bank Indonesia dalam mendorong UMKM Indonesia agar tumbuh, tangguh, dan berdaya saing.
“Setiap tahun, dengan penuh rasa syukur kami adakan KKI agar UMKM Indonesia bisa terus tumbuh, tangguh, dan berdaya saing. Tapi, UMKM perlu mempunyai ekosistem yang menjadi tujuan berkelanjutan,” kata Aida saat Seremoni Penutupan KKI 2026 di JICC Jakarta, Minggu (23/8/2026).
KKI 2026 melibatkan lebih dari 1.860 UMKM dari seluruh Indonesia. Hampir 560 UMKM di antaranya berpartisipasi secara luring dengan menampilkan berbagai produk unggulan, mulai dari wastra, ready to wear, makanan dan minuman, home decor, hingga karya kreatif generasi muda.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari 27 kementerian/lembaga dan 34 asosiasi, mitra, industri, perbankan, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.
Talenta Maluku Utara Ikut Bersinar
Selain pameran produk, KKI 2026 turut menghadirkan program pengembangan talenta dan potensi daerah melalui Cangkir Barista dan Citra Nusa.
Cangkir Barista berfokus pada pengembangan wirausaha kopi melalui peningkatan kompetensi, sertifikasi nasional, dan pendampingan usaha bagi barista. Sementara Citra Nusa diarahkan untuk memperkuat daya saing UMKM wastra melalui peningkatan kapasitas, inovasi desain, serta pengembangan produk berorientasi ekspor.
Maluku Utara turut ambil bagian melalui Rey Garel Baldy dalam program Cangkir Barista dan Puta Dino Kayangan dalam Citra Nusa.
Keikutsertaan tersebut menjadi bukti bahwa potensi UMKM dan talenta kreatif Maluku Utara semakin mendapat ruang untuk tampil di tingkat nasional.
Bank Indonesia berkomitmen terus memperkuat UMKM melalui peningkatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar dan pembiayaan, inovasi, digitalisasi, serta pengembangan ekosistem yang berkelanjutan. Aida juga mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan nyata terhadap produk lokal.
“Cintai, bangga, dan pakai produk UMKM Indonesia. Karena kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi UMKM Indonesia menjadi tuan rumah produk Indonesia,” pesannya.
Dengan semangat “Beudaya Meusare-Sare” atau “Berdaya Bersama-sama”, KKI 2026 diharapkan menjadi gerakan bersama untuk membawa karya UMKM dari berbagai daerah semakin dikenal di dalam negeri sekaligus mampu menembus pasar global.
Bagi Maluku Utara, capaian Rp206 juta tersebut bukan sekadar angka transaksi, tetapi menjadi sinyal positif bahwa produk lokal memiliki daya saing dan peluang besar untuk terus berkembang di pasar nasional maupun internasional.(red/rls)



















