Rica dan Kangkung Jadi Senjata Baru Menjinakkan Inflasi

TERNATE – Bank Indonesia (BI) Maluku Utara meluncurkan Program RINDANG BERSERI atau Rica dan Kangkung dalam Kampung, Berkualitas dan Asri sebagai salah satu program unggulan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku Utara tahun 2026.

Program tersebut mengusung semangat “Maluku Utara Bangkit Jaga Inflasi” dan diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat sekaligus membantu menjaga stabilitas harga pangan di daerah.

Dalam sambutan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara, Handi Susila, menegaskan bahwa pengendalian inflasi bukan hanya berkaitan dengan angka statistik, tetapi juga menyangkut daya beli masyarakat, kesejahteraan, serta pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim dan dinamika distribusi pangan antarwilayah, pengendalian inflasi membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, TPID dan seluruh pemangku kepentingan.

Kondisi inflasi Kota Ternate hingga Juli 2026 menjadi salah satu perhatian. Sebagai kota Indeks Harga Konsumen (IHK) dengan bobot terbesar di Provinsi Maluku Utara, Ternate mencatat inflasi year-to-date sebesar 4,82 persen, sementara inflasi bulanan Juli 2026 mencapai -0,67 persen atau mengalami deflasi.

Meski mengalami deflasi pada Juli, tekanan inflasi year-to-date masih cukup tinggi dan didominasi kelompok volatile food, terutama komoditas seperti ikan cakalang, tomat, cabai rawit serta sejumlah komoditas strategis lainnya. Tanam Rica dan Kangkung dari Lingkungan Rumah

Melihat kondisi tersebut, BI Maluku Utara menilai pengendalian inflasi perlu dimulai dari sisi hulu, salah satunya melalui penguatan pasokan pangan.

Program RINDANG BERSERI menjadi bagian dari implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang dikembangkan BI melalui kerangka 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif.

“Gerakan menanam rica dan kangkung tersebut tidak sekadar dimaknai sebagai kegiatan penghijauan atau perlombaan antarwilayah. Program ini diarahkan sebagai investasi sosial untuk membangun ketahanan pangan mulai dari tingkat rumah tangga,” ucapnya.

Lebih lanjut, Masyarakat mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah diharapkan berkurang. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membantu meredam gejolak harga dan mendukung pengendalian inflasi.

TP PKK Jadi Penggerak Utama
Dalam pelaksanaannya, Tim Penggerak PKK Kota Ternate mendapat peran strategis sebagai penggerak utama Program RINDANG BERSERI di tujuh kecamatan Kota Ternate.

Program akan didorong melalui optimalisasi lahan produktif, peningkatan kapasitas masyarakat serta pengembangan budidaya pangan berbasis pekarangan.

BI Maluku Utara berharap langkah tersebut mampu memperkuat ketahanan pangan masyarakat, meningkatkan ketersediaan pasokan dan menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga pangan di Kota Ternate dan Provinsi Maluku Utara. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang dibagikan.

Lebih jauh, keberhasilan akan terlihat dari semakin banyaknya pekarangan yang produktif, keluarga yang mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangannya sendiri, peningkatan pasokan pangan lokal serta kontribusi program terhadap pengendalian inflasi.

Bank Indonesia menekankan bahwa pengendalian inflasi tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, TPID, TP PKK dan masyarakat.

“Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Namun jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama,” menjadi pesan yang menegaskan pentingnya sinergi dalam menjalankan program tersebut.

Melalui Program RINDANG BERSERI, seluruh pemangku kepentingan diajak menjadikan ketahanan pangan rumah tangga sebagai gerakan berkelanjutan.

BI Maluku Utara optimistis sinergi tersebut dapat meningkatkan ketersediaan pasokan pangan, menjaga stabilitas harga dan mendukung pengendalian inflasi di Maluku Utara.

“Program ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang memberikan manfaat nyata bagi ketahanan pangan, kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi daerah,” jelanya.(red)