TERNATE – Dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional ke-68, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) menggelar edukasi gizi serentak di seluruh Indonesia yang sekaligus menjadi bagian dari pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Selasa (20/1/2026).
Di Kota Ternate, kegiatan dipusatkan di SMP Islam Terpadu (SMP IT) yang melibatkan perwakilan siswa dari SMP IT, SMP Negeri 4, dan SMP Negeri 5 Kota Ternate. Edukasi ini dilaksanakan serentak mengikuti pembukaan nasional yang dimulai pukul 09.00 WIT.
Perwakilan PERSAGI Maluku Utara dari Poltekkes Kemenkes Ternate menjelaskan bahwa edukasi ini bertujuan menyelaraskan pemahaman siswa terkait pentingnya konsumsi makanan bergizi seimbang, sekaligus mendukung program pemerintah terkait pemenuhan gizi anak dan remaja.
“Edukasi serentak ini untuk menyelaraskan pemahaman tentang konsumsi makanan yang sesuai panduan kesehatan. Harapannya, anak-anak tidak hanya makan, tetapi memahami kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh sehingga pertumbuhan dan perkembangan mereka bisa optimal,” ujarnya.
Ia menambahkan, edukasi gizi sebenarnya rutin dilakukan setiap tahun dalam peringatan Hari Gizi Nasional. Namun, tahun ini menjadi inovasi baru karena dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia sebagai upaya pemecahan rekor MURI.
Sementara itu, pihak sekolah menyambut baik kegiatan tersebut karena dinilai sejalan dengan program pembiasaan di sekolah, khususnya kebiasaan hidup sehat.
Kepala Sekolah SMP islam Terpadu Kota Ternate Hamza Tubaka SH, MM menyampaikan bahwa tema Hari Gizi Nasional tahun ini, “Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045”, sangat relevan dengan kurikulum pembiasaan siswa di sekolah.
“Di sekolah ada pembiasaan tujuh kebiasaan anak, di antaranya bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan makanan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur lebih awal. Edukasi ini sangat berkaitan langsung dengan program tersebut,” jelasnya.
Sebanyak 30 siswa yang didominasi kelas IX mengikuti kegiatan ini. Mereka diharapkan menjadi agen informasi yang dapat menyebarkan pemahaman tentang gizi seimbang kepada teman-teman dan lingkungan sekitarnya.
“Harapannya, pengetahuan ini tidak berhenti pada 30 siswa saja, tetapi bisa diteruskan kepada seluruh siswa di sekolah bahkan di lingkungan tempat tinggal mereka,” pungkasnya.(barak)














