TERNATE – Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ternate terus memperkuat upaya menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan melalui pembinaan dan pelatihan penanganan ikan di atas kapal. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kerugian akibat ikan rusak yang akhirnya terbuang ke laut.
Kepala PPN Ternate, Kamarudin, menjelaskan selama ini nelayan kerap menghadapi persoalan saat melaut, terutama ketika hasil tangkapan melimpah tidak diimbangi dengan kemampuan penanganan yang memadai di atas kapal.
“Percuma kalau kita menangkap ikan banyak, tetapi tidak bisa kita tangani kualitasnya. Misalnya kita tangkap ikan dengan kadar protein tinggi, tapi karena penanganannya tidak baik, akhirnya ada yang rusak dan dibuang ke laut. Itu yang harus kita hindari,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, pembinaan yang lebih serius perlu terus dilakukan, terutama dalam hal stabilisasi penanganan hasil tangkapan, dukungan logistik, serta ketersediaan sarana pendukung di atas kapal.
“Tahun ini kami sudah melakukan pelatihan penanganan ikan di atas kapal, namanya Sertifikasi Keterangan Penanganan Ikan di Atas Kapal. Kemarin ada 30 peserta yang ikut. Ini untuk mencegah ikan yang sudah ditangkap akhirnya dibuang ke laut karena rusak atau mati,” jelasnya.
Ia menambahkan, strategi ini dilakukan untuk mengintensifkan pemahaman nelayan tentang tata cara penanganan ikan yang baik dan benar, sehingga kesegaran ikan tetap terjaga dan nilai jualnya tinggi.
“Kalau ikan sudah ditangkap, tapi hasilnya rusak, akhirnya dibuang. Itu yang mau kita cegah. Dengan penanganan yang benar, kualitas ikan tetap terjaga dan harganya bisa tinggi,” katanya.
Ia juga menyebutkan, sejauh ini di Ternate belum pernah ditemukan kapal berizin pusat yang membuang hasil tangkapan ke laut.“Alhamdulillah di Ternate belum pernah ada kapal izin pusat yang membuang ikan. Semua hasil tangkapan dijual. Ini kondisi yang harus kita pertahankan,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar nelayan menyesuaikan jumlah tangkapan dengan kemampuan penanganan di atas kapal.
“Jangan sampai kemampuan menangkap besar, tapi kemampuan menangani kecil. Itu yang akhirnya menyebabkan ikan terbuang. Harus seimbang,” ujarnya.
Ia berharap pembinaan dan pelatihan seperti ini terus ditingkatkan agar nelayan semakin memahami pentingnya penanganan hasil tangkapan sejak di atas kapal hingga tiba di darat.
Dari sisi pasar, kondisi di Ternate dinilai cukup menguntungkan karena harga ikan masih terjangkau oleh masyarakat. Hal ini membuat harga ikan di pasar lokal mampu bersaing dengan pasar di luar daerah dan memudahkan nelayan maupun pemilik kapal dalam memasarkan hasil tangkapan.
Bahkan, rata-rata ikan yang masuk ke pasar lokal disebut lebih banyak dibandingkan yang masuk ke Jorkowo. Untuk jenis ikan tuna, harganya saat ini masih tergolong terjangkau.
“Kalau di perusahaan, harga ikan tuna bisa mencapai sekitar Rp45.000 per kilogram. Sementara di pasar, biasanya hanya sekitar Rp20.000 per kilogram,” ujarnya.
Jenis ikan yang tersedia di pasar juga cukup beragam, mulai dari cakalang, tuna, hingga ikan dasar. Untuk penjualan lokal, rata-rata yang dijual adalah tuna ekor kuning dan tuna sirip kuning. Selain itu, terdapat pula ikan pelagis seperti julung-julung, tongkol, dan nelayang.
Sementara untuk ikan dasar, tersedia jenis seperti kerapu, lencam, dan berbagai jenis lainnya, sehingga hampir semua jenis ikan tersedia di pasar.
Namun, nelayan juga mengeluhkan kondisi saat musim puncak ikan. Ketika hasil tangkapan melimpah, pasar menjadi jenuh sehingga harga ikan turun drastis.
Kondisi ini terjadi karena daya serap pasar yang masih rendah. Ketika pasokan ikan sangat banyak, tidak semua bisa terserap pembeli sehingga harga langsung jatuh.
Selain itu, masyarakat setempat lebih memilih mengonsumsi ikan segar. Ikan yang diawetkan atau dibekukan biasanya hanya dibeli ketika ikan segar tidak tersedia.(red)














