HALUT – Pasca banjir yang terjadi di Desa Doitia, Kecamatan Loloda Utara, Halmahera Utara, sangat membutuhkan perhatian serius oleh Pemerintah Halmahera dan Provinsi Maluku Utara.
Dimana Sungai Doitia yang saat ini tersumbat oleh material longsoran berupa tanah serta tumpukan kayu kayu besar, yang di duga menjadi penyebab utama banjir diwilayah tersebut.
Warga Doitia meminta agar Pemerintah Daerah Halmahera Utara dan Provinsi untuk segera lakukan normalisasi sungai Doitia.
Karena sungai tersumbat telah ditutupi material kayu dan tana sehingga aliran air meluap ke pemukiman warga lantaran membelok dari jalur utama. Ini menimbulkan banjir dengan ketinggian air 30-50 cm di rumah-rumah warga.
Warga hawatir jika tidak dilakukan penanganan konkret, banjir akan kembali terjadi saat hujan deras.
Petrus Sitanala, salah satu warga, menegaskan bahwa normalisasi sungai dengan menggunakan alat berat seperti excavator sangat penting.
“Normalisasi dimaksudkan untuk mengeruk sedimen, memperlebar dan meluruskan alur sungai, serta memperkuat tebing untuk meningkatkan kapasitas tampung air dan memperlancar aliran air sehingga mencegah banjir,” ungkapnya, Minggu (11/1/2026).
Penanganan banjir saat ini sudah dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari TNI/Polri, Tagana, Satpol PP, BPBD, PMI, Tim SAR dan Tim Kesehatan, yang telah tiba di lokasi sejak 10 Januari 2026.
Ini ditegaskan Kepala BPBD Halmahera Utara, Hentje Hetharia, melaporkan bahwa penanganan diperkirakan akan memakan waktu sesuai dengan progres pekerjaaan di lokasi bencana.
“Meski Bupati menetapkan maksimal satu Minggu, jenis pekerjaan yang sedang dilakukan meliputi pembersihan lumpur di rumah warga, sumur-sumur, dan drainase,” ujarnya.
“Semua alat-alat sudah lengkap dan pekerjaan dimulai bersama-sama pada Minggu, 11 Januari 2026,” tambahnya. ( Jefry )














