TERNATE — Panglima Kodam XV/Pattimura, Mayor Jenderal TNI Dody, mengungkap adanya senjata api peninggalan masa pemerintahan Belanda yang ditemukan di wilayah Maluku Utara. Senjata tersebut disebut masih dalam kondisi aktif dan secara teknis masih dapat digunakan.
Hal itu diungkapkan Pandgam saat menyampaikan keterangan pers di halaman kantor Makorem 152 Babullah di Ternate, Jumat (02/10/2026).
Dalam keterangannya, Pangdam XV/Pattimura yang turut didampingi Danrem 152/Babullah Brigjen TNI Enoh Solehudin serta para Komandan Kodim menjelaskan bahwa senjata tersebut merupakan jenis senjata yang digunakan pada masa lalu.
“Ini senjata asli, seperti senjata asli pada zaman pemerintahan Belanda. Dan ini aktif, bisa digunakan,” ujar Dody.
Menurutnya, senjata tersebut merupakan senjata organik yang digunakan pada masa pemerintahan terdahulu. Meski merupakan benda peninggalan sejarah, kondisi senjata masih memungkinkan untuk digunakan apabila dilengkapi dengan munisi.
“Kalau dulu dia senjata organik. Ini aktif, bisa digunakan. Dikasih munisi di dalamnya, ditembakkan bisa,” jelasnya.
Senjata tersebut disebut berkaitan dengan peninggalan masa Kesultanan dan masa penjajahan. Temuan itu menjadi salah satu perhatian aparat dalam mengantisipasi potensi gangguan keamanan di wilayah Maluku Utara.
Dody mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari respons TNI Angkatan Darat terhadap perkembangan situasi di lapangan.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak hanya mengandalkan aspek keamanan, tetapi juga membangun hubungan dan komunikasi dengan masyarakat.
“Ini adalah program unggulan dari Bapak Panglima TNI. Kita merespons secara adaptif terhadap perkembangan situasi yang ada. Inilah wujud aplikatif dari integrasi yang sudah dilakukan,” katanya.
Ia menyebut keberhasilan membangun komunikasi dengan masyarakat juga tidak terlepas dari berbagai program TNI Angkatan Darat yang menyentuh langsung kebutuhan warga, salah satunya pembangunan sumur bor di desa-desa.
Melalui program tersebut, prajurit TNI dapat berbaur dengan masyarakat sehingga komunikasi dan pertukaran informasi menjadi lebih terbuka. Kondisi itu kemudian membangun kepercayaan antara masyarakat dan aparat.
“Dari situ kita berbaur dengan masyarakat, akhirnya terbuka semua komunikasi dan informasi. Sehingga timbul saling percaya antara masyarakat dengan TNI. Alhamdulillah hal ini kita capai,” ujarnya.
Selain dengan masyarakat, TNI juga terus memperkuat koordinasi bersama jajaran kepolisian dan unsur terkait lainnya.
Koordinasi lintas sektor dinilai penting agar setiap perkembangan di lapangan dapat ditangani secara terpadu dan tidak terjadi miskomunikasi.
Dody juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap pelabuhan-pelabuhan kecil yang menjadi jalur penghubung antarpulau, termasuk wilayah yang memiliki akses menuju negara lain.
“Kita memiliki SDM terutama di pelabuhan-pelabuhan kecil, pelabuhan-pelabuhan yang bisa menghubungkan antar pulau, apalagi antarnegara. Karena negara kita ini sangat rentan ke luar sana dengan negara lain,” katanya.
Ia memastikan langkah antisipasi terus dilakukan melalui personel yang berada di berbagai wilayah. Menurutnya, pendekatan kepada masyarakat di daerah terpencil menjadi bagian penting dari sistem pengamanan sekaligus deteksi dini.
Program yang menyentuh langsung masyarakat, kata dia, diharapkan semakin memperkuat kepercayaan warga terhadap TNI sehingga informasi mengenai potensi gangguan keamanan dapat lebih cepat diterima dan ditindaklanjuti.
“Program yang dilakukan oleh Bapak Kasad itu menyentuh ke daerah-daerah terpencil. Dengan kita melakukan seperti itu, masyarakat percaya bahwa ini merupakan wujud nyata peran TNI Angkatan Darat kepada masyarakat dalam memberikan informasi,” tuturnya.
Dody menambahkan, hingga saat ini belum terdapat indikasi yang dinilai cukup membahayakan. Meski demikian, aparat tetap melakukan pemantauan dan koordinasi sebagai langkah antisipasi untuk menjaga situasi keamanan di wilayah Maluku Utara. (Udy/barces)



















