TERNATE, JURNALONR.id – Sampah selalu menjadi biang masalah bagi semua orang, mulai dari lingkungan terkecil hingga tingkat perkotaan di seluruh Indonesia. Di kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, sampah masih dijumpai disejumlah titik dipersimpangan jalan, mulai dari sampah rumah tangga hingga sampah plastik.
Melihat hal itu, tiga orang aktivis yang terhimpun dalam Solidaritas Aksi Mahasiswa Untuk Rakyat Indonesia (Samurai) Provinsi Maluku Utara, menggelar aksi simpatik dengan menggunakan pakaian hazmat lajimnya digunakan para relawan dan petugas medis menanggani pasien Covid-19.
Mereka langsung terjun kesjumlah kali matai dan kawasan kumuh di kota Ternate, sambil membawa plastik sampah, kemudian mengangkat sampah plastik bekas minuman berbagai merek yang dibuang secara sembarangan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Tumpukan sampah platis bekas botol minuman itu terlihat kumuh dan menjijikan dibeberapa lokasi kali mati menjadi titik perhatian para aktivis itu. Mereka kemudian dibantu sejumlah rekannya, mengangkat hasil pungitan sampah keatas kali.
Rakib Badar, selaku koordinator menyampaikan, gerakan yang mereka lakukan merupakan bentuk keperdulian terhadap problem sampah tengah menadi perhatian serius pemerintah kota Ternate, dan juga menjadi aksi nyata mereka ikut menanggulangi bahaya sampa di kota Ternate.
“ Aksi ini yang kami gelar ini sudah berlang sejak kemarin dan ini akan terus kami lakukan, sebagai wujud menaggapi problem sampah yang ada di kota Ternate. bicara soal sampah itu harus ada aksi nyata, sehingga kami Samurai berkolaborasi dengan Expedisi Sungai nusantara (ESN) melakukan aksi nyata turun ke tempat yang kumu atau kotor inilah yang kita pilih untuk memunggut sampah,” ungkap Rakib, Rabu (26/10/2022).
Timpukan sampah platis hasil yang dipungut selanjutnya dipikul dan diarak melewati jalan protokol, menuju ke kantor walikota Ternate di Kelurahan Gamalama. Setelah tiba di kantor walikota sampah platik kemudian dihamburkan dipintu masuk kantor walikota untuk disortir kembali lalu diserahkan kepada Walikota Ternate. Namun karena tidak bertemu Walikota, sampah kemudian diterima Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kota Ternate, Tonny S Pontoh.
Aksi para aktivis ini mendapat respon positif dari pemerintah kota Ternate, karena telah membantu pemerintah dalam mengatasi masalah sampah yang menjadi perhatian pemerintah kota Ternate, yang menjadikan kota Ternate sebagai kota bersih dan bebas dari sampah.
“ Kami ucapkan terimakasih dari pemerintah kota Ternate kepada adik-adik Samurai, tolong jangan kendor sampai disini saja. Pemerintah tidak tinggal diam, walikota terus bersama kami mengatasi masalah sampah ini, meski kami tidak mendeteksi semuanya,” ujar Tonny dihadapan para aktivis itu.
Sementara Tim Peneliti Expedisi Sungai Nusantara (ESN), Prigi Arisandi menjelaskan, Ternate merupakan kota ke 43 yang dikunjuginya, dan mereka telah menemukan fakta buruknya tata kelolah sampah oleh pemerintah kota Ternate. Dimana kata dia, dampak buruknya pengelolaan sampah berdampak pada pencemaran lingkungan, kusnya pada pencemaran air laut di bibir pantai dari dampak sampah platik itu.
“ Di Ternate kita menemukan buruknya pengelolaan sampah yang menyebabkan perairan Ternate terkontaminasi dengan mikro plastik. Kami menemukan di perairan Ternate ini dari 173 partikel, yang merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya ada 6 spesis ikan karang sudah terkontaminasi mikro plastik,” kata Prigi Arisandi kepada Beritasatu.com.
Lebih lanjut dijelaskannya, dengan hasil temuan penilitian ini diharapkan pemerintah kota Ternate agar dapat kembali memulihkan air laut di bibir pantai dari sampah plastik, seperti botol bekas air minum dan minuman lainya menyebabkan pencemaran ke laut. Selain itu, diharapkan partisipasi masyarakat ikut memerangi sampah plastik dengan cara mengurangi komsumsi pengunaan plastik sekali pakai.
“ Ini menjadi peringatan serius bagi Pemkot Ternate untuk melakukan upaya serius membersihkan dan memulihkan pantai dan perairan di Ternate dari sampah pelastik, yang kita jumpai botol plastik, kertas saset, dan tas kresek dan lainya. Problem pencemaran sungai dan sampah plastik ada tiga, pertama produser dan konsumen kita mendorong masyarakat Ternate puasa, mengurangi pengunaan plastik sekali pakai, tas kresek, sedotan, botol, dan saset. Pemerinah agar segera melakukan regulasi agar mendorong orang mengurangi pengunaan itu,” jelasnya.(red/SMG)

















