TERNATE – Menteri Sosial Tri Rismaharini melakukan kunjungan ke Sentra Wasana Bahagia, di Ternate, Provinsi Maluku Utara, Rabu (9/8/2023). Dalam kunjungannya itu, Menteri Sosial menjenguk dua anak korban rudapaksa oleh ayah kandung di asal Kabupaten Halmahera Utara.
Sebelumnya kedua anak tersebut Kementerian Sosial melalui Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak dan Sentra Wasana Bahagia Ternate telah melakukan respon kasus tersebut pada Juli 2023 lalu.
Kata Risma, selain melakukan asesmen psikososial, Tim Kemensos membawa kedua korban berserta ibunya untuk pemeriksaan obsetri dan ginekologi, dan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah terdapat virus pada tubuh korban. Selain itu, kondisi kesehatan adik korban juga diperiksa.
Kedua korban dan ibu kandung juga difasilitasi ke dokter spesialis jiwa untuk mengetahui dampak psikologis yang dialami.
“Makanya saya harus datang mengkondisikan supaya mereka terasa nyaman dan tidak terancam lagi. Tadi diskusi saya sama ibunya dan anak-nanaknya maka kita aka nada solusi-solusi untuk penangan ini,” kata Menteri Sosial itu, Rabu (09/08/2023).
Sementara dari sisi pendidikan Kata Risma, Kemensos mengadvokasi agar J dan G tetap bisa meneruskan pendidikannya. Kemensos mengunjungi sekolah korban agar pihak sekolah memberika dukungan dan memfasilitasi pendidikan korban.
Kemensos berkoodinasi dengan Dinas Sosial terkait DTKS dan PBI JK, serta menemui aparat setempat agar memberikan dukungan kepada keluarga korban.
Tim kemensos juga secara langsung memberikam terapiidan dukungan psikososial berupa hipnoterapi dan terapi seni. Hipnoterapi dilakukan untuk meningkatkan rasa tenang dan penerimaan diri. Kemudian Terapi seni diberikan untuk membantu meregulasi emosi sedih marah, dan malu yang sangat dominan dirasakan.
“Korban juga diberikan konseling serta psikoedukasi terkait kondisi saat ini agar lebih mampu menerima diri dan tetap optimis akan masa depannya. Ibu korban juga dimotivasi agar teguh dalam menjalani proses hukum,” ucap Risma.
Lebih lanjut, Menteri Tri Rismaharini mengaku, sepanjang tahun 2023 ini laporan setiap harinya yang diterima adalah 50 % merupakan laporan terhadap kasus kekerasan pada anak serta kasus pelecehan seksual. Namun angka dari 50 % tersebut merupakan repersentasi dari seluruh kasus di Indonesia sehingga kasus kekerasan pada anak dan pelecehan seksual ini harus menjadi perhatian bersama pemerintah daerah.
“Di 2023 ini saya punya data tapi saya tidak hafal, bahwa memang sekarang semua sudah berani melaporkankan kalau dulu banya ketakutan sehingga banyak sekali kasus. Setiap hari saya menerima 10 laporan ke saya itu 50 % adalah pemerkosaan dan itu terjadi diseluruh Indonesia bukan hanya di Ternate saja,” ujar Mensos itu.
Risma menghaharapkan kepada Gubernur, seluruh Bupati dan Walikota agar berperan aktif atas memberikan penaganan dan pencegahan terhadap kasus-kasus kekerasan dan pelicehan yang terjadi di daerah masing-masing. Pemerintah daerah harus menciptakan lapangan pekerjaan bagi setiap para korban agar mereka tetap punya semangat yang sama.
“Tadi saya sudah diskusi bagimana kita secara bersama-sama bisa menciptakan pekerjaan-pekerjaan untuk mereka, sehingga mereka punya kesibukan, seperti dimana saya masih menjadi Walikota dimana kondisi saat itu saya menciptakan pekerjaan-pekarjaan dan Alhamdulillah itu menjadi baik,” harapnya.
Diketahui, berdasarkan hasil asesmen, korban J (19) mengalami kekerasan seksual oleh ayah kandung sejak tahun 2019, sedangkan korban G (17) mengalami kejadian serupa sejak tahun 2021. Tidak hanya mengalami kekerasan seksual, keduanya juga mengalami kekerasan fisik.
Kejadian ini diketahui ibu kandung korban, namun tidak berani melapor karena dianiaya dan diancam. Ibu korban kerap mengalami KDRT oleh pelaku. Awal kasus ini terungkap karena nenek korban (ibu pelaku) melihat luka lebam di tubuh korban dan akhirnya menceritakan kejadian yang dilakukan oleh ayah kandungnya.
“Kemensos sudah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum agar pelaku bisa dihukum maksimal. Termasuk penambahan hukuman sebanyak 1/3 karena pelaku adalah keluarga,” Tegasnya.
Dalam kunjuganya itu, korban beserta adik dan sepupunya mendapatkan bantuan ATENSI (Asistensi Rehabilitasi Sosial) berupa perlengkapan sekolah, sandang, nutrisi tambahan, alat kebersihan diri, dan alat permainan edukatif. Sementara ibu korban mendapat bantuan berupa kasur dan ATENSI Kewirausahaan.
Selain menemui korban kekerasan seksual, Mensos juga bercengkrama dengan anak yang mengalami gizi buruk. Kisah anak-anak tersebut ramai diberitakan di media sehingga menarik perhatian Mensos. Anak-anak tersebut dibawa ke Sentra Wasana Bahagia Ternate untuk pemulihan kondisi kesehatan.
Pada kesempatan yang sama, Kemensos menyalurkan bantuan sembako kepada 55 orang dengan rincian 9 orang lansia, 11 orang rentan, penyandang disabilitas 15 orang, HIV 10, Anak 10.(red/SMG)














